Sejak awal kemunculan Islam, Rasulullah telah menanamkan kesadaran bahwa amal saleh tidak akan bernilai tanpa keikhlasan, dan ibadah tidak akan diterima apabila disertai dengan sifat riya, sombong, atau bangga diri. Nabi juga mengingatkan agar umatnya menjauhi penyakit hati tersebut. Bahkan, Nabi sering menegaskan bahwa yang membinasakan manusia tidak hanya dosa-dosa lahiriah, tetapi juga kerusakan batin yang tersembunyi di dalam hati.
1.Takhalli yaitu mengosongkan diri dari sifat-sifat yang tercela baik lahir maupun batin, seperti hasud, tamak, takabur, bakhil, khianat, dusta, cinta harta, cinta dunia, riya’ , pemarah (ghadab), dan lainnya. 2. Tahalli yaitu mengisi dan membiasakan diri dengan sifat-sifat terpuji seperti takwa, ikhlas, tawakal, sabar, syukur, khusuk, taubat, amanah, ridha, mahabbah (perasaan cinta Allah semata), dan lainnya. 3. Tajjalli yaitu mengamalkan sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah seperti: salat sunah, dzikir, puasa sunah, khalwat (menyendiri untuk ibadah kepada Allah
Hal ini disampaikan pada hari ke 2 sesi materi Upgrading Kesekretariatan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Medan yang dilaksanakan tanggal 23 – 24 Desember 2025 di pondok pesantren ulumul qur’an
K.H. Akhyar Nasution juga menekankan bahwa nilai-nilai tasawuf memiliki peran strategis dalam membentuk kepribadian pengurus NU yang ikhlas, tawadhu’, dan istiqamah dalam berkhidmat kepada umat dan bangsa. Menurutnya, penguatan dimensi spiritual menjadi pondasi penting bagi pengelolaan kesekretariatan yang amanah, profesional, dan berorientasi pada kemaslahatan.red