Kesehatan

Talitha Zafirah: Memaknai Hidup di Antara Romantisasi dan Realita

  • Februari 28, 2025
  • 0

Medan-TOP Sumatera: Dinobatkan sebagai makhluk kompleks, ternyata akal dan perasaan yang dimiliki manusia menghasilkan dua bagian menakjubkan lainnya. Bagai penjelajah kehidupan, manusia menggandeng memori juga ekspektasi. Dua hal

Talitha Zafirah: Memaknai Hidup di Antara Romantisasi dan Realita

Medan-TOP Sumatera: Dinobatkan sebagai makhluk kompleks, ternyata akal dan perasaan yang dimiliki manusia menghasilkan dua bagian menakjubkan lainnya. Bagai penjelajah kehidupan, manusia menggandeng memori juga ekspektasi. Dua hal yang cenderung berdiri di ambang berlainan, namun beriringan pula di waktu yang sama. Lalu, apakah dua hal ini menambah keistimewaan manusia, atau justru akar dari deretan masalah?

Memori yang tersimpan rapi di tiap-tiap manusia, tanpa disadari membuat manusia terlalu terikat pada masa lalu, bahkan meromantisasinya. Hal ini secara alamiah membuat manusia beranggapan bahwa kenangan adalah satu-satunya hal yang lebih indah dari realita. Karenanya, Mark Manson dalam bukunya “The Subtle Art of Not Giving a F*ck” ikut mengingatkan, “Nostalgia is inherently biased. We remember the highlights and forget the struggles.”

Sementara ekspektasi yang dipupuk terlalu tinggi tentang masa depan, justru membuat manusia kehilangan esensi kehidupan yang sejati dan menggantungkan kebahagiaan pada masa depan yang belum tentu sesuai harapan. Padahal, sebagaimana yang dikatakan Eckhart Tolle dalam buku populernya yang berjudul The Power of Now, “Realize deeply that the present moment is all you have. Make the NOW the primary focus of your life.” Bahwa satu-satunya hal yang sesungguhnya manusia miliki adalah saat ini. Namun, seberapa sering kita benar-benar hadir dalam momen yang sedang berlangsung?

Karenanya, prinsip “Live in the moment” yang digaungkan saat ini berperan sebagai penyeimbang antara memori dan ekspektasi, sehingga membantu kita menyikapi hari ini sebagai anak panah yang fokus mengenai target sasaran. Masa depan yang baik, tidak dibangun melalui harapan kosong, melainkan melalui tindakan dan kesadaran yang dilakukan hari ini. Prinsip Stoikisme juga menegaskan tentang hal ini, sebagaimana mengutip pesan dari Marcus Aurelius dalam Meditations, “Confine yourself to the present.” Hidup di saat ini bukan berarti mengabaikan masa lalu atau menyepelekan masa depan, tetapi menerima kenyataan yang ada, menyikapi potensi yang dipunya, untuk akhirnya membuat keputusan terbaik sebagai langkah.

Dengan menerapkan prinsip “live in the moment”, membantu manusia menikmati hidup dan memaknainya, tanpa terbebani oleh bayangan masa lalu atau ilusi masa depan. Luar biasanya, prinsip ini akan membuat manusia jauh lebih bijak dalam menentukan keputusan dengan gambaran yang hadir saat ini, untuk akhirnya mewadahi potensi-potensi yang dipunya sebagai bagian dari upaya terus bertumbuh. Dengan memaknai hidup di saat ini, kita dapat menjalani kehidupan yang lebih bermakna, damai dan memuaskan.

Beberapa langkah yang dapat membantu kita menerapkan prinsip ini:

  1. Berlatih mindfulness untuk lebih sadar bahwa hidup adalah perihal luas, yang diibaratkan menjadi alat untuk melukis beragam pengalaman sekaligus pelajaran berharga
  2. Menghindari untuk berlama-lama menyesali masa lalu, atau terlalu menggambarkan masa depan dengan sempurna tanpa celah
  3. Fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan dan memaafkan yang tidak bisa dikendalikan, serta berefleksi untuk tetap menghidupi jiwa dan motivasi
  4. Menghargai momen-momen kecil yang terjadi, untuk memaknai betapa luar biasa cara kerja semesta, sehingga rasa syukur ikut menemani untuk tiap langkah berikutnya.

Karenanya, untuk benar-benar mengecap makna dari setiap detik yang berlalu, kita perlu meniti keseimbangan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan dengan penuh kesadaran. Terjebak pada romantisasi dan mengenyampingkan realita, membuat langkah terasa berat, hingga lupa menikmati dan memaknai hal-hal luar biasa yang hadir saat ini. “The power for creating a better future is contained in the present moment: You create a good future by creating a good present.”

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *